Thursday, June 2, 2011

Cinta sang penulis


Ketika aku menatap jendela belakang rumah yang penuh dengan embun semalam, aku masih sembab dengan mataku yang semalam yang penuh duka. Sungguh aku bingung dengan apa yang harus aku lakukan saat mendengarnya tiada.
“Niky! Sungguh ga mau ikut?”
Aku  hanya hening di dalam kamar yang sunyi dan berharap bayangnya datang untukku.
Biarlah ibu yang pergi melihatnya telah tiada, sesungguhnya aku tidak ingin melihatnya pergi. Karena sampai kapanpun aku selalu ingin ia di dunia ini menemaniku.
***
 Dari kejauhan suara kecil yang manja datang menghampiri saat aku akan menaiki anak tangga sekolah.
“Niky!”
“ Anca? Ngapain kesini?”
“Anca sepi di kantin, Anca mau ikut Nicky  Sekali ini aja yaa Anca Mohon!”
“Oke kali ini aja ya?”
“iya janji!”
Akhirnya gw terpaksa untuk kembali menuruni anak tangga dan menggandeng tangan gadis kecil itu menelusuri lorong sekolah untuk tepat sampai di taman yang jaraknya dekat dengan katin, sungguh damai memang, bercerita dan tertawa kecil dengan seorang penulis kecil yang jualan nasi uduk di kantin sekolah bersama teman satu satunya yang ia meliki yaitu Ibunya tercinta. Gw adalah salah satu penikmat tulisannya yang sungguh mengharukan dari seorang gadis yang malang nasibnya.
“Nicky, tau ga?”
“engga ! orang kamu aja belum cerita!”
“hihhihi… semalem Anca mimpi.!”
“mimpi porno ya..??”
“iihh… bukan !!”
“terus mimpi apa? Kayaknya seneng banget!”
“mimpi ketemu Ayah semalem, Ayah ajak Anca Main basket terus pas Anca jatuh ada cowok yang angkat Anca bangun!”
“siapa cowok itu? Pasti Nicky!”
“hahha PD banget, itu Gilang!”
“Gilang??”
Entah Apa yang gw fikirkan saat dia sebut nama Gilang di senyum manis bibirnya, sungguh Gilang memang ketua Osis yang keren, pinter dang ga suka cabut cabutan kayak gw. Tapi kenapa dia harus datang dimimpinya Anca?,
“Nik.. boleh ga sih Anca jatuh cinta?”
“boleh kok!”
“Nicky Pernah jatuh cinta?”
“Pernah!”
“sama siapa?”
“sama……. Kasih tau ga ya??”
Sesungguhnya gadis yang gw sukai untuk saat ini hanya dia, tetapi seketika gw ragu saat cerita yang dia ucap tadi. Karena gw fikir dia mencintai gw, ternyata sungguh gw salah perkiraan besar, cowok yang di sukainya adalah Gilang ! cowok keren seorang Ketua Osis SMA gw yang bener bener ngeTOP dan di puja puji banyak cewek yang menjadikan gw begitu amat tersingkir karena dia, sungguh gw akui gw ini malas, tapi baut gw wajah Gilang ga lebih baik dari gw, emang dasar Anca bukan suka cowok dari fisik dia pernah cerita kalo dia emang seneng banget sama cowok yang tipe tipe leader mungkin karena dia merindukan sosok seorang ayah di hidupnya yang meninggalkannya saat usia 5 tahun.
***
“eh gembel lo di cariin guru, cabut mulu!”
“hehehe, maklum cowok ganteng kaya gw banyak yang ngajak kencan di jam pelajaran!”
“preett!”
“hahaha.. males gw pasti dongeng!”
“kata Ibu gw bagus boy mengulang sejarah!”
“iya tapi kata BAPAK gw yang udah berlalu biarin aja berlalu!”
“lo abis maen sama si Anca kan?”
“iye, parah boy!”
Gw lalu meninggalkan Jono temen sebangku sekaligus karib gw. Dia tahu banyak tentang hidup gw bahkan cinta yang gw punya. Dia pun ikut sebagai pembaca cerpen cerpen Anca yang tertulis sangat Indah di atas kertas Nasi uduk jualannya itu. Entah kenapa gw jatuh cinta sama gadis kecil itu, mungkin karena keunikannya membuat cerita di balik bungkus nasi yang Ibunya jual ke anak anak yang laper. Ada yang menyambut cerita Anca dan ada pula yang sebaliknya. Tapi hebatnya Anca terus melakukannya tanpa bosan meski tanggapan yang kurang menyenangkan lebih banyak dari yang menyenangkan. Sungguh hati yang luar biasa buat gw.
“Nicky!”
“Anca?”
“masih pagi ca, masa Nicky harus cabut lagi?”
“kali ini terakhir ko, yaa pliss temenin Anca!”
“terakhir ya??”
“iya! Janji”
Akhirnya gw pun mau untuk lekas mengajak gw, kini dia yang lebih agresif menggandeng tangan gw, tapi beberapa detik gw balikkan tangan gw untuk menggenggam tangan lembutnya.
“mau kemana nih? Ini jam pelajaran Nikc masuk!” gw berpapasan di pintu belakang menuju gerbang dengan seorang Leader yang bernama GILANG !
“Maaf ya lang, Anca buru buru ngambil nasi di depan, tangan Anca lemah banget pagi ini jadi Anca harus minta tolong Nicky buat angkutin kesini.!”
“Gilang bantu ca.!”
“makasih bantuannya, tapi Ga usah Nicky aja!”
Dengan cepat Anca menuntun gw berlari melewati gerbang yang sempit, yang nyaris akan di kunci saat pak satpam sedang patroli di kantin. Gw masih berfikir seberapa berat bawaan Nasi uduk Anca yang banyaknya karena stock buat pelanggan Ibu Anca yang kian membeludak saat istirahat di buru oleh pemangsa pemangsa yang udah keroncongan.
“Nicky bisa naik sepeda ga?”
“bisa! Kenapa?”
“bawa sepeda ini bonceng Anca.!”
“mau kemana dulu, tumben naik sepeda? Biasanya kita Cuma di sekitar sekolah aja?”
“Udah ikut aja!”
“yaudah deh!”
Entah akan kemana gw di ajak gadis nan manis ini pergi.
***
“Ayah…. Ini yang Anca sering certain. Dia pembaca setia Cerpen Anca yah…”
Sungguh gw ga berani untuk mengusik Anca yang sedang asik bicara diatas makam ayahnya yang seolah olah begitu dekat dengan kami berdua!
“Nicky!”
“ya??”
“sini. Jangan takut, ini Ayah Anca!”
“engga, Nicky ga takut!”
“Nicky, Anca sering kesini buat ngobrol sama Ayah tentang kisah kisah Anca setiap hari!”
“kenapa baru kali ini Anca ajak Nicky?”
“hmm.. soalnya Anca tau ayah bosen dengerin cerita Anca tentang Nicky, makanya Anca mau kenalin Nicky ke Ayah!”
“tentang Nicky??”
Anca duduk bersender di sebelah pundak gw dan itu tepat disaksikan di depan makam Ayah Anca yang nyaris tak ada daun satupun diatasnya karena tangan kecil Anca yang telah membersihkannya.”
“Nicky!”
“hmm??”
“Anca bingung!”
“kenapa harus bingung?”
“Anca jatuh cinta!”
“yaudah certain aja!”
“Anca berkali kali mau cerita sama Nicky!”
“yaudah ceritakan lah Anca cantik anak Ayahnyaaaa..!!”
“hihihih… Nicky, Anca Jatuh cinta!”
“sungguh??”
“ya!”
“biar Nicky tebak. GILANG kan??”
“GILANG???”
Anca hanya tersenyum dan rasanya tidak ingin melanjutkan ceritanya.
Gw merasa damai bersama Anca saat ini, keningnya yang menyentuh lengan gw terasa sedikit panas dan gw menganggap itu hal yang biasa, karena saat gw SMP dulu gurubiologi gw pernah cerita kalo manusia itu mempunyai darah yang panas. Jadi gw ga pernah khawatir saat badan gw panas. Emang alas an yang Pinter sih, tapi kalo gw ngadu sama Jono dia selalu ucap “suram”. Ah gw yakin sama prinsip gw pokonya.
“Nicky!” Anca kembali melanjutkan pembicaraan saat keheningan dua puluh detik
“ya!”
“Anca mau berenti nulis ah!”
“ih kenapa??”
“tangan Anca lelah!”
“hmm… Yaudah besok Nicky bawain Laptop buat Anca nulis, supaya ga cape cape nulis! Gimana??”
“Laptop??”
“iya, itu computer kecil yang bisa di bawa bawa.!”
“oh…”
Diam sejenak lalu Anca melanjutkannya lagi.
“Otak Anca juga lelah…”
“Ah Anca,… nanti Nicky bakal kangen sama si Gadis kecil yang ada di cerita itu!”
“Nicky!”
“ya!”
“Anca juga Mau Akhiri cerita itu aja..!”
“Oh kalo gitu ya terserah Anca sih, kan Anca penulisnya.!”
Anca Hanya tersenyum sambil menggenggam bunga melati yang ada di tangannya yang ia petik saat gw bonceng di jalan menuju kemari.
“Nicky boleh Anca minta tolong ?”
“boleh, apa??”
“Bantu Anca untuk mengAkhiri cerita ini”
“caranya??”
“cukup Nicky disini terjaga dalam keheningan bersama Anca!”
“Hanya itu??”
“Anca ingin mengakhirinya secepat mungkin sebelum Gadis kecil itu bosan dengan keadaannya”
“kenapa gadis itu harus bosan ca?? bukannya dia selalu menjadi gadis yang periang? Yang selalu bersiul saat pagi bersama camar, dia kan masih berjalan untuk menemui Pangeran yang masih menjadi misteri untuknya??”
“iya, tapi gadis itu salah, Pangeran itu tidak akan pernah mencintai Gadis kecil ini, pangeran itu hanya di takdirkan bersama Putri yang Cantik yang akan ia temui dengan gaun Indahnya, dengan sepatu kacanya, sedangkan gadis kecil itu adalah seorang penghuni hutan yang berteman camar ”
“Anca ! bukannya Cinderella juga bukan seorang Putri Cantik yang tidak bergaun indah dan tidak dengan sepatu kaca??”
“yaa.. Cinderella itu beruntung karena ia mempunyai seorang Peri, sedangkan gadis kecil itu kan tidak?”
Lalu anca bangkit dari bahuku dan akupun berusaha untuk menatapnya dengan menggeser bahunya dengan posisi menghadapku, begitu cantik dan manis gadis kecil ini.
“ko Anca sedih sih??”
“engga ko! Sungguh.!”
“tapi kenapa anca nangis?”
“hey.. Anca bukan nangis, Anca Cuma seneng karena Gadis itu ga sendiri, Gadis itu masih punya teman baik yang selalu ada di sisinya. Tahu kan kamu siapa dia?”
“hmm… “
“Dia yang selalu nemenin gadis kecil itu!”
“oh… iya Nicky tahu! Si Camar.! Ya kan?”
“Iya.”
“hehehe… Hm.. Anca, gimana kalo Endingnya itu gini si Camar itu ternyata suka sama si Gadis kecil itu??”
“masa suka sama Camar??”
“Anca, Camar menurut Anca ga boleh punya cinta? Seperti Nicky, Anggaplah Nicky seekor Camar yang menemani Gadis kecil itu, Anggaplah Gadis kecil itu adalah seorang Anca yang menganggap sahabat tidak mungkin jatuh cinta, Anca tahu kenapa Camar itu masih setia menemani Gadis itu,?”
“engga!”
“Camar itu mencintainya Anca!!”
Tanpa gw sadari Anca menangis dengan membentuk sungai air mata dan berhenti tepat di ujung bibir tipisnya. Gw dengan lekas menghapusnya dan memintanya untuk tidak menangis, gw bujuk karena gw ga mau kalo Ayahnya tahu Anca nangis di depan gw Cuma mempermasalahkan Ending Cerita!
“Anca mau pulang ayah, besok Anca kesini.”
“sama Nicky ya!” pinta gw.
“sendiri!” saat itu tanpa basa basi dan obrolan sedikitpun dari bibir gadis manis itu.
“Anca lelah Nicky bisa cepetan??”
“Anca sakit?” sambil menggoes sepeda dengan sungguh sungguh kencang!
“engga , Anca lelah!”
Akhirnya sampai di rumah Anca, jam di tangan gw masih menunjukkan pukul sepuluh pagi, hal yang sudah tidak mungkin untuk gw pergi kesekolah, jadi gw memutuskan untuk bolos hari ini dan menemani Anca di rumahnya.
“Nicky sana!”
“ko Nicky di suruh pergi?, Nicky mau nemenin Anca di rumah.
“Ga apa apa ko, Anca mau sendiri!”
“Ah Anca pelit, yaudah kalo gitu!”
Dia hanya tersenyum….
“tunggu dulu!”
“tuh kan kangen??”
“hhiihih PD banget sih?? Janji mau nerusin cerita Anca ya!”
“Iya… Nicky Janji. Yaudah Anca istirahat dulu sana! ”
Anca berlalu masuk kamarnya, dan gw pun berlalu dengan berat hati karena meninggalkan Anca dengan sisa Air mata di pipinya.
***
ANCA hanya tinggal uraian cerita dalam sebuah kertas Nasi Uduk berwarna cokelat. Anca menderita hemophilia yang di gariskan menjadi penyakit keturunan ayahnya.
Ia tidak dapat menyelesaikan akhir dari cerita itu karena sakitnya, kini ungkapan ibunya Jono benar kita harus mengulangi sejarah.  Dimana Gw harus mengingat kembali ucapan ucapan Anca saat itu agar lebih Indah,
Terakhir kali Ana Menulis,,….
Wahai Camar…
Sesungguhnya Pangeran itu tidak ada,
Aku lelah jika harus mencari dimana dia,
Sesungguhnya hanya kamu yang menemaniku dalam penantian…..

Aku melanjutkannya…..


5 comments:

  1. sedih ....
    sumpah gu baca'a sampe merinding dan hampir nangis ...

    apa krna kisah ini ada hubungan'a dngan kenyataan hdp km ??

    km emang bener" penulis lik ...
    km emang di takdirkan bwt jd penulis sejati ...

    ReplyDelete
  2. Belgi, lo motivator gw menulis, sampai saat ini gw ga pernah dapet pujian akan tulisan gw....
    hahaha...
    sedih bahkan malang memang,
    makasih ya..
    ini cuma berimajinasi aja ko...

    ReplyDelete
  3. masa sie ga pernah dapet pujian akan smua krya tulis llu ??
    padahalkan tulisan llu bagus & kadang tulisan llu ituh terselip makna yg berarti buat si pembaca ..

    hanya berimajinasi tapi dlm yah kalah deh tuh lautan dlm'a ..
    hehee ..

    klw boleh tau sejak kpn llu suka nulis ???

    ReplyDelete
  4. sejak gw dapet hadiah buku diary dr ibu gw umur 7 tahun,....

    ReplyDelete
  5. emang dh bakat dri kecil yah ...

    smoga llu bisa menulis yg lebih bagus lg dan lebih ada makna'a ...

    baru x nie gu nemuin temen yg sama hobi'a kaya gu ..
    llu temen pertama gu yg suka nulis ....

    ReplyDelete

Please You comment about my Blog !
:D